Awalnya, aku hanya melihat pakaian indah itu dikenakan pada acara-acara tertentu saja. Saat itu, aku sama sekali belum tahu apa nama pakaian yang indah itu. Sempat pernah terlintas di kepalaku ‘Aku ingin memakai pakaiani. Itu suatu hari nanti’. Tak kusangka hal yang sempat terlintas itu menjadi kenyataan saat aku sudah duduk dibangku Sekolah Dasar-lebih tepatnya kelas 4 SD. Masih teringat dengan jelas masa-masa itu hingga saat ini. Tanggal 21 April-Dalam rangka memperingati Hari Kartini, di kotaku mengadakan pawai dengan peserta siswa-siswi SD, SMP, SMA/MA, dan Umum. Pada waktu itu Ibu Guruku mendata siswa-sisiwinya mengenai pakaian apa yang akan dikenakan saat pawai. Dengan semangat dan antusias, aku mengatakan kalau aku akan mengenakan ‘Kebaya’, pakaian yang kuimpi-impikan sejak kecil.

Kala itu yang kuketahui mengenai ‘Baju Kebaya’ hanyalah sekedar ‘Baju adatnya orang jawa’, hanya itu saja. Maklumilah, saat itu pengetahuanku masih sangat sedikit, wawasanku juga masih sempit. Aku tak sadar kalau ternyata pengertian kebaya lebih dari apa yang kupikirkan selama ini. Bahkan kebaya memiliki asal-usul serta makna tersendiri yang tidak banyak orang ketahui. Rasa ingin tahuku yang tinggi mengenai kebaya membuatku mencari berbagai informasi tentang kebaya dari berbagai sumber. Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul serta makna dari kata ‘Kebaya’. Pendapat pertama menyatakan kalau kebaya berasal dari serapan bahasa arab yaitu ‘Kaba’ atau ‘Qaba’ yang artinya ‘Pakaian’. Berdasarkan pendapat tersebut apakah kita bisa menyimpulkan kalau kebaya berasal dari Arab? Jawabannya tidak. Pendapat kedua menyatakan kalau kebaya berasal dari China yang kemudian menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Dari pendapat kedua ini, apakah kita sudah bisa mengatakan kalau kebaya berasal dari China? Jawabannya belum. Dua pendapat ini belum bisa menyatakan asal-muasal kebaya. Lantas siapa yang telah membawa kebaya ke Nusantara? Berasal dari manakah kebaya? Apakah ada lagi pendapat mengenai kebaya?

Masih ada satu pendapat lagi mengenai kebaya. Kalian mengenal Bangsa Portugis? Bangsa Portugislah yang telah memperkenalkan kebaya ke Nusantara dengan istilah ‘Cabaya’ dan sekarang kita semua menyebutnya dengan kebaya. Tidak jauh berbeda ternyata, hanya berbeda dua huruf saja yaitu huruf ‘C’-‘K’ dan huruf ‘A’-‘E’.

Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya mengenai pengertianku akan kebaya yang pada saat itu hanya berpikir kalau kebaya hanyalah ‘Baju adatnya orang Jawa’, tidak lagi untuk sekarang. Kini aku mulai mengetahui serta memahami kalau kebaya adalah ‘Pakaian blouse tradisional yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan bersamaan dengan sarung, kain batik atau bahan lainnya seperti songket dengan motif warna-warni yang dibuat menjadi rok.’

Pada masa Kerajaan Majapahit-sekitar abad ke-9, kebaya sudah dijadikan sebagai pakaian sehari-hari para permaisuri dan selir raja. Tujuan mereka memakai kebaya ialah agar para wanita kerajaan terlihat lebih sopan. Bagaimana jika di zaman sekarang ini kita meniru para wanita pada masa Kerajaan Majapahit untuk memakai kebaya sebagai pakaian sehari-hari? Apakah setuju yang akan memperoleh suara terbanyak? Untuk pendapatku sendiri aku kurang setuju. Memang saat masih kecil aku kagum pada kebaya dan antusias untuk memakainya, namun, seiring semakin dewasanya diriku serta perkembangan zaman yang semakin maju membuat rasa kagum itu perlahan luntur. Untuk saat ini, aku merasa memakai kebaya merupakan suatu hal yang ribet.

Saat ada acara pawai pun aku tidak lagi memakai baju kebaya. Apakah hanya aku yang mengalami perubahan seperti ini? Tentu saja tidak. Hampir sebagian besar anak milenial berpendapat yang sama denganku yaitu ‘Ribet’ kalau memakai kebaya, apalagi jika digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Hal itu terjadi bukanlah tanpa alasan. Adanya kaus serta pakaian simple lainnyalah yang membuat kami para generasi milenial enggan memakai kebaya sebagai pakaian sehari-hari.

Berdasarkan survei yang telah kulakukan melalui wattsapp untuk mengetahui seberapa banyak orang yang setuju kalau kebaya dijadikan sebagai pakaian sehari-hari, aku mendapatkan empat jawaban. Sekitar 0,16% setuju kalau kebaya dijadikan sebagai pakaian sehari-hari. Menurut pendapat Dinar yang ditulis dalam wattsapp, “Aku sih setuju-setuju aja, apalagi kalo kebayanya dikreasiin dan dibuat modern, kan jadi keren plus bisa ngelestariin budaya dengan cara yang berbeda.” tulisnya. Namun, persentase kurang setuju ternyata lebih besar daripada persentase setuju, yaitu sekitar 0,33%, disusul 0,46% tidak setuju, dan 0,05% sangat tidak setuju.

Lepas dari semua itu, berdasarkan informasi yang kudapat dari CNN Indonesia, ternyata ada seorang perempuan yang selalu mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari. Ia berpendapat kalau kebaya merupakan pakaian yang memiliki fungsi dan nilai yang tinggi untuk digunakan sehari-hari. Perempuan itu bernama Rahmi. “Perlu disosialisaikan cara memakai kebaya dan kain biar enggak ribet. Saya tiap hari memakai kebaya, bukan sesuatu yang ribet. Saya naik gunung berkebaya tidak ribet.” ucap Rahmi.

Tidak hanya mengatakan itu, Rahmi juga menjelaskan kalau kebaya bisa dipakai dengan nyaman saat beraktivitas diera modern yang serba cepat dan praktis ini. Rahmi mengatakan kalau sekarang ini sudah tersedia kebaya dengan bahan kaus sedangkan kain bisa dilipat dengan metode tertentu untuk memudahkan gerak. Usai membaca penjelasan dari Rahmi, aku menjadi kembali tertarik untuk memakai kebaya. Apalagi kebayanya berbahan kaus. Ternyata kebaya tidak selamanya ribet untuk digunakan. Apalagi dizaman yang sudah modern seperti sekarang ini, kebaya bisa diinovasikan menjadi pakaian yang simple tapi masih mengandung unsur dari kebaya itu sendiri. Jenis kebaya di Indonesia tidak hanya satu, melainkan beragam. Selama ini yang aku tahu hanyalah kebaya Jawa. Lantas ada jenis kebaya apa saja di Indonesia selain kebaya Jawa? Diantaranya ada kebaya bali, kebaya kartini, kebaya bandung, kebaya kutubaru, kebaya nyonya, kebaya encim, kebaya indo, dan kebaya keraton. Kebaya mana saja yang sudah pernah kalian pakai?

Perlu kita ketahui bahwa pada tahun 1940, Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno pernah menjadikan kebaya sebagai kostum nasional. Pada saat itu juga, kebaya dianggap menjadi busana tradisional perempuan Indonesia dan menjadi lambang emansipasi perempuan Indonesia. Ini terjadi karena kebaya merupakan busana yang dipakai oleh tokoh kebangkitan perempuan Indonesia, yaitu RA. Kartini. Namun, melihat hasil survei yang telah kulakukan, kita bisa tahu kalau persentase tidak setuju paling besar. Berarti bisa kita simpulkan kalau minat untuk memakai kebaya dikalangan generasi milenial cukup rendah. Padahal kebaya merupakan kostum nasional bangsa kita. Untuk menjadi generasi milenial yang baik, bukankah kita harus bisa melestarikan budaya yang bangsa kita miliki? Salah satu budaya itu adalah ‘Kebaya’. Sebisa mungkin kita harus melestarikan kebaya. Kita harus membuat minat diri kita sendiri serta masyarakat meningkat untuk memakai kebaya. Jangan sampai kebaya hilang tertelan oleh perkembangan zaman yang semakin hari semakin maju.

Bagi diriku sendiri, cara yang kulakukan untuk meningkatkan minat serta rasa cintaku pada kebaya salah satunya adalah mempelajari segala hal mengenai kebaya, mulai dari asal-usul, pengertian, serta jenis-jenis kebaya yang ada di Indonesia. Memang cara itu tidaklah membuat minat serta rasa cinta kita terhadap kebaya langsung meningkat, tapi setidaknya sedikit demi sedikit hal itu akan terjadi. Jadi, tunggu apalagi? Mari kita tingkatkan minat serta rasa cinta kita terhadap kebaya saat ini, detik ini juga. Jangan menunda-nunda, karena sedetik waktu begitu berharga. Angkat kembali derajat salah satu budaya nasional kita ‘Kebaya’, harumkanlah ‘Kebaya’ dimata dunia. Jangan biarkan kebaya musnah tertelan pakaian modern masa kini. Mari kita bersama-sama nguri-nguri budaya bangsa. Lestarikan Kebaya demi Indonesia tercinta.