Guru Pintar Baru

Pintar Baru[1]

Internet dimulai pada tahun 1969 oleh Departemen Pertahanan Amerika sebagai tindak lanjut penelitian di UCLA. Pada 1989 www dicetuskan. Lalu pada November 1993 mesin pencari pertama dirilis: Mosaic. Ebay dan Amazon telah eksis sejak 1995. Pada 1999 Alibaba berdiri di China. Forum jual beli Kaskus mulai eksis pada 1999 di Indonesia. Tokopedia lahir tahun 2009. Bukalapak berdiri tahun 2011. Shopee berdiri tahun 2015. Nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai 26 triluin pada awal pandemi corona bulan Maret 2020.

Tapi di dunia sekolah Indonesia, internet masih merupakan kebutuhan kedua. Internet mulai memaksa dunia sekolah untuk mengadaptasinya ketika Ujian Nasional Berbasis Komputer yang bersifat semi online diprogramkan oleh menteri Anies R Baswedan pada 2015.

Lalu hari ini, pada saat covid-19 menjadi wabah dunia, mau tidak mau sektor pendidikan dipaksa melaksanakan pembelajaran secara online. Secara langsung covid-19 telah memaksa setiap orang tua, siswa dan guru harus mampu menggunakan teknologi informasi ini. Corona yang mematikan itu menular secara mudah melalui pernafasan dari orang-orang yang berdekatan maka phisical distancing menjadi keharusan. Jaga jarak telah menjadi normal baru. Semakin eksislah internet menjadi kebutuhan riil harian setiap pelajar dan guru. Sampai-sampai kementerian memprogramkan pengadaan kartu dan pulsa bagi dunia pendidikan.

Pintar Baru

Era pandemi ini merupakan tantangan bagi sebagian guru. Beberapa alat komunikasi berbasis internet mungkin sudah menjadi keseharian mereka. Aplikasi tonton video juga mudah mereka pakai. Tetapi aplikasi interaktif seperti pengirim data belum mereka akrabi. Aplikasi komunikasi massal daring belum menjadi kebiasaan. Dan yang paling penting: keterampilan membuat media yang internet-frendlybelum menjadi keseharian.

Tuntutan mengirim data kepada siswa dan membaca data kiriman siswa benar-benar memaksa guru ini belajar kembali. Virus corona telah memaksa guru kembali menjadi pintar, pintar dengan segala sesuatu yang terkait internet yang sebelumnya hanya meupakan hal sekunder dalam pekerjaan sehingga tidak begitu diperhatikan pun tidak berefek negatif.

Tanpa kepintaran memanfaatkan teknologi internet dengan berbagai aplikasi praktisnya, guru tidak lagi dapat mendidik anak bangsa. Keterampilan membuat media pembelajaran audio visual menjadi keharusan. Keterampilan mengedit bahan tayang pembelajaran menjadi wajib. Keterampilan verbal harus dikurangi. Keterampilan-ketrampilan yang semula hanya merupakan permainan para youtuber yaitu keterampilan bermain media menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penyiapan pembelajaran. Hanya guru yang pintar teknologi internet dan media yang akan dengan tenang mengajar dalam era covid-19 ini. Maka pintar media dan internet menjadi pintar baru dalam dunia guru kita. Guru tidak hanya melaksakan normal baru tapi juga harus menjadi pintar baru.


[1] Oleh Mungalim, SPd. Majenang 27/10/2020